Di antara kepulan asap tebal, Made Kada, 49, berulang kali mengaduk cairan dalam wadah terbuat dari tong bekas yang ditempatkan pada tungku besar. Ia mempergunakan sebilah kayu panjang yang menyerupai sendok. Terkadang ia melongok ke sumber api dan menambah kayu bakar bila bara sudah mengecil.
Ketika matanya terasa pedih, ia pun meninggalkan tungku untuk istirahat sejenak. Begitu seterusnya sampai cairan tadi mengental dan kering lantas menjadi serbuk halus berwarna putih serta berasa asin, yaitu garam. Begitu garam dipindahkan ke wadah lain, Kada kembali mengisinya dengan air yang berkadar garam tinggi serta mengolahnya menjadi serbuk garam. Ia biasa melakukan hal itu empat hingga lima kali sehari.
Satu proses pembuatan garam membutuhkan waktu 3 – 4 jam. Saban hari, Kada memulai pekerjaannya sejak pukul 05.00 pagi. ”Kadang sampai jam 18.00, atau malah lembur bila permintaan banyak dan kayu juga tersedia,” kata Kada, yang asal Sraya, Karangasem.
Sudah 20 tahun, Kada menekuni pembuatan garam di kawasan hutan mangrove, Jl By Pass Ngurah Rai, Sidakarya, Denpasar. Ia dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Keluarga ini menempati rumah yang terbuat dari kayu, yang sekaligus sebagai tempat pembuatan garam.
Kada awalnya hanyalah buruh pembuatan garam. Selama bertahun-tahun ia bekerja pada orang sembari terus melatih keterampilannya, sehingga mampu mendirikan tempat pembuatan garam sendiri sampai sekarang.
Proses pembuatan garam di Denpasar termasuk oleh Kada, tidak mempergunakan panas matahari seperti di Jawa Timur maupun Madura. Menurut Kada, itu disebabkan kurang luasnya lahan serta terlalu dekat dengan pantai sehingga mudah tersapu air pasang. Kawasannya pun termasuk rawa-rawa sehingga kelembabanya tinggi serta mudah tergenang bila ada hujan.
Selain itu, lanjut Kada, kadar garam air laut di sepanjang kawasan Denpasar pada khususnya dan Bali secara keseluruhan cukup rendah. ”Sangat berbeda dengan di Jawa,” cetusnya. Karenanya, ia harus mencampur garam kasar dengan air sumur yang masih mengandung garam untuk mendapatkan hasil maksimal. Garam kasar tersebut didatangkan dari Jawa Timur. Kada biasa order sampai 16 ton setiap tiga bulan sekali, dengan harga Rp 500 perkilogramnya.
Ada beberapa tahap dalam proses pembuatan garam di tempat Kada. Garam kasar awalnya ditempatkan dalam bak yang terbuat dari kayu dan berisi air payau (sumur), sampai keseluruhan mencair. Air pun dialirkan ke bak penampungan. Air lalu diambil dan ditempatkan ke bak berikutnya, untuk proses penyaringan. Hasil saringan inilah yang lantas dimasak hingga menjadi garam halus. Semua tempat penampungan milik Kada terbuat dari kayu. Katanya, ”Bisa saja dibuat dengan semen. Tapi kalau ngambil kan pasti lebih susah sehingga bersisa. Nah, dengan bak dari kayu, pengambilan air dengan gayung lebih mudah serta gayung tak mudah rusak.”
Garam buatan Kada dijual Rp 50.000 setiap karung, berisi sekitar 35 kg. Menurut Wayan Londri, istri Kada, setiap harinya ada pedagang yang membeli garam keluarganya. ”Jadi kami tidak pernah menjual sendiri ke pasar atau tempat lain. Semua habis dibeli pedagang yang rata-rata dari Sidakarya,” kata Londri yang menambahkan bahwa pasaran garam di Denpasar lebih bagus ketimbang daerah asalnya, Karangasem.
”Kalau disini, tiap hari ada yang ambil dan tak pernah bersisa. Kami pernah membuat di Karangasem, tapi tidak tahan karena pembelinya sangat sedikit,” lanjut Kada.
Proses pembuatan garam di kawasan Sidakarya ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Keluarga Kada sering dikunjungi turis asing. Selain melihat dan mengabadikan pembuatan garam dengan kamera maupun video, turis biasanya membelinya untuk oleh-oleh.
”Kadang sekeranjang atau dua keranjang kecil. Harganya sih murah, tapi sering dikasih uang lebih. Anak-anak juga ditinggali uang. Yah, mereka bilang sih senang bisa melihat pembuatan garam disini,” urai Londri.
Dalam sehari, kata Kada lagi, hasil penjualan bisa untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Tak jarang ada kelebihan hasil dan kemudian ditabung untuk keperluan sekolah, upacara agama, dokter dan lainnya. ”Hasilnya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan karena kami harus menyisihkannya supaya bisa membeli garam kasar maupun kayu bakar,” jelasnya.
Nyoman Artha- anak ketiga Kada, mengatakan, ada sisi negatifnya membuat garam dengan pembakaran terutama dari segi kesehatan. Selain pedih matanya karena terus menerus terkena asap, pernafasannya pun kadang terganggu. Kulit juga bisa menjadi kering bila tidak segera dibilas dengan air tawar.
Sebab itu, Kada dan Artha sempat mencoba mengolahnya memakai gas. Ternyata hasilnya kurang bagus, tidak bisa sama keringnya bila diolah dengan kayu bakar. ”Lebih lumer, kurang bagus. Maka kami beralih lagi memakai kayu bakar,” lanjutnya. Untuk memperbanyak hasil produksi, Kada membuat dua tungku besar yang masing-masing bisa diisi dengan tiga wadah air garam semacam loyang besar. Wadah tersebut terbuat dari tong bekas, yang dibeli Kada dengan harga Rp 60.000, dan perlu diganti setahun sekali.